Monday, March 5, 2012

SESUATU YANG PASTI






wanita....
dengan sejuta senjata itu
dia,
pada akhirnya meninggalkan noktah setelah bahagia di sana,

akalnya entah di mana,
tiada di fikir untuk apa semua pengorbanannya,
tiada di fikir susah payah dan pengorbanan masa,

wanita.....
itu yang hancurkan hatinya
dia,
kejam hanya harta dan pangkat di depan mata,
kertas bermaruah baginya adalah segala-galanya,

wanita....
itu yang binasakannya
dia,
di habiskan hinggga tidak bersisa,
hingga tiada yang percaya,
terlalu lama di pelihara tapi tiada hasilnya,

wanita....
itu yang membawanya ke lembah neraka itu
dia,
kecantikannya membutakan mata selama bersamanya,
suaranya membisik sejuta janji-janji dusta,


wanita....
itu yang tidak mengerti dia menyakiti itu
dia,
segalamya di korbankan hanya untuknya,
tapi di balasnya " kata " yang merosakkan segala rasa di dalam hati dan jiwa,

wanita....
itu yang membibitkan dendam dihatinya
dia,
lebih busuk dari segumpal najis di hujung sebelah sana,
yang kini tiada kelihatan untuk apa semua pengorbanan
dan untuk sebuah ikatan rasa,

wanita...
itu yg tidak membalasnya
dia,
hatinya hanya tahu menggoda dan meminta,
wanita....
itu yang menganggap dirinya sempurna itu
dia,
menghancurkan harapan setelah tercapai harapannya,


wanita....
itu kini selesa di sana,
sakit sekeping hati hampa tiada mengetahui dan peduli,
hanya padaNya tempat mencurah perit dan luluh hati ini,
hanya padaNya tempat mengadu segala amarah,

jujur dalam hati biarpun dia tak kembali,
dia kan tahu peritnya hati suatu hari nanti........



Sebuah Janji





" diari luka di tinggal si mati,
diari dari sekeping hati,
lakaran pena yang tulus berduri,
pengakhir sebuah realiti,

kenapa...?
lebih mudah memungkiri dari mengotakan janji,
kenapa...?
lebih mudah mencaci dari ikhlas memuji,

hujan petang yang lebat membasahi bumi,
yang gersang di jamah teriknya mentari,

hati sedih menjerit kembali,
kerna yang baik telah pun pergi,
tak kunjung datang setelah penat letih menanti,
menanti sedangkan kau tahu dia telah pun pergi,
pergi mengikat janji,
pergi sehingga kau mati,

mentari silih berganti,
setiap detik seolah tiada erti,
yang terlelap panjang di buai mimpi,
di apit kata bersulam ngeri,
berlabuh jauh tersasar daratan yang hijau,
tak kunjung sampai tempat di tuju,
terkaku sendiri......

terkapai lagi mencari haluan,
terkunci.....
gelora badai masih tak pasti,
lumpuh semangat dan tak mungkin di sembuh lagi,
kaku sendiri menanti pagi melambai tinggi,

hebatnya menyintai memungkiri janji,
habis punahkan istana putih,
menunggu kau rebah sujud ke bumi,
menanti detik semua terbalik,
sampai terlelap tak berani mengharap simpati,
kasih tersemat di bawa ke sisi........"